Sabtu, 05 Desember 2015

Aku dan Ash


          “Kau membunuhnya.” Kataku di sela-sela kesibukanku membersihkan wajahnya.

          “Riani menggodaku.Dia mencoba memisahan kita.” Jawabnya.

          “Tapi Riani temanku.Dan,tidak menjadi masalah selama kau tidak tergoda.” Jawabku.

          “Teman macam apa yang ingin merebut kekasih sahabatnya sendiri ?” Tanyanya.

          “Ash,tolong hentikan kebiasaanmu.Aku takut.”

          “Kenapa ? apa kau sudah tidak tahan menjadi kekasihku ?”

          “Tidak,bukan seperti itu.” Jawabku sambil melanjutkan membersihkan sudut bibirnya.Tapi Ash mencekal pergelangan tanganku dan merebut kapas yang kupegang.

          “Hentikan,aku bisa melakukannya sendiri.” Lalu Ash pergi menuju kamar.Meninggalkanku yang hanya bisa melihat punggungnya saat ia berlalu.

          Entah apa yang ia lakukan di dalam kamar.Tapi beberapa saat kemudian terjadi konsleting sehingga listrik langsung padam dan aku mendengar bunyi pecahan kaca yang cukup keras dari dalam kamar.Aku langsung berlari dan mendapati Ash ada disana.

          Ia berdiri menghadap cermin yang sudah pecah menjadi ratusan bagian. Kepalanya tertunduk.Dari sini aku hanya bisa menatap punggungnya dengan cemas.Yang kutahu hanyalah cermin itu pasti pecah karena ulah Ash.

          “Kau benar,aku hanyalah seorang monster.Sudah sepantasnya kau takut padaku.Tapi bagaimana lagi ? membunuh adalah hidupku.Jadi untuk mengakhiri semua pembunuhan-pembunuhan itu,hidupku juga harus berakhir.” Lalu ia berbalik.Di pipinya ada sebuah luka kecil yang mengeluarkan darah.Aku hanya bisa tercengang menatapnya.

          “Luka ini ? ini hanya permulaan.Mungkin aku harus membuat satu lagi di sini.Selamat tinggal,aku tidak akan mengganggumu lagi.” JawabAsh dengan mengeluarkan senyuman gilanya.Ash mendongakkan kepalanya dan mengarahkan pecahan cermin itu tepat ke urat nadinya.

          Akupun berlari menghampirinya karena jaraknya yang cukup jauh dariku.

          “Hentikan !!!” Teriakku panik.

          Aku meraih tangannya.Tapi mengingat sifat Ash yang keras kepala sudah pasti ia tidak mau begitu saja mengurungkan niatnya.Aku tidak akan menyerah.Aku harus segera mengambil serpihan kaca itu dari genggaman tangannya atau aku akan kehilangan Ash untuk selamanya.

          “Aku tidak ingin mengganggumu lagi.” Kata Ash terputus-putus.

          Astaga,kenapa ini terasa begitu sulit ?

          Aku hanya harus merebut benda tajam itu dari tangannya dan semua akan berakhir.Hanya semudah itu.

          Badannya yang jauh lebih besar dariku ditambah dengan kekuatannya sebagai seorang pria membuatku kewalahan sehingga kami terpaksa harus bergelut cukup lama.

          Dan akhirnya aku mendengar pecahan kaca itu jatuh terlempar dari tangannya.

          Tapi belum berhenti sampai di situ.Lengan kekar Ash mengenai badanku dan aku langsung terlempar dan bagian belakang kepalaku menghantam salah satu sisi ranjang.Suasana berubah menjadi hening walaupun tidak mengurangi ketegangannya sedikitpun.Kami saling bertatapan di dalam keheningan.Yang terdengar hanya suara nafas memburu yang aku sendiri tidak tau itu nafas siapa.

          Sementara di depanku,Ash masih berdiri tegak sambil menatapku dengan tatapan menghina seakan akan matanya berkata padaku kalau aku hanyalah seorang anak kecil yang tidak mungkin bisa menghalangi apapun yang ia inginkan.

          Ash melirik kebawah mencari-cari serpihan kaca lagi.Entah suatu kebetulan atau memang sebuah keberuntungan.Tepat di sebelah kaki kanannya terdapat pecahan kaca yang besarnya 3x lebih besar dari yang tadi.

          “Aku akan membuatnya lebih mudah.” Katanya sinis.

          Ash membalikkan tubuhnya dan mengangkat benda tajam itu.

          Sinar lampu dari luar masuk melalui jendela,sinarnya terkena sudut benda tajam itu dan memantul mengenai mataku sampai aku silau dibuatnya.

          Aku menggeleng gelengkan kepalaku karena merasa sangat pusing.Tapi aku tetap berusaha berdiri.Sebelum semuanya terlambat.Aku berusaha untuk berdiri walaupun kepalaku terasa sangat pening.

          “Terimakasih sudah mencintaiku.”

          Dadaku menubruk punggungnya.Seketika itu juga,terdengar suara benda tajam yang tertekan menembus lapisan kulit dan daging.Sedetik kemudian tampaknya darah sudah mulai mengalir dari sana.Dari sebuah luka yang menganga.

          Aku memeluk Ash dari belakang dengan sangat erat.Aku meremas baju bagian depannya.Mungkin sekarang baju itu sudah mulai terkena noda darah.

          Dan listrik akhirnya kembali menyala.Sekarang kami berdua sudah bisa melihat ada cukup banyak darah di telapak tangan masing masing.

          Darah itu berasal dari tanganku.

          Aku mencengkeram ujung pecahan kaca yang kedua sisinya sangat tajam.Tanganku menjadi penghalang antara benda tajam dengan perut Ash.

          Darah masih mengalir.Kami masih hanyut di dalam keheningan sampai Ash mulai membuka pembicaraan.

          “Kenapa kau melakukannya ?” Tanya Ash.

          “Aku tidak ingin kehilanganmu.. Aku mencintaimu.” Dan aku menyandarkan kepalaku di punggungnya.

          “Jangan pernah melakukan ini lagi.” Tambahku.

          Aku merasakan Ash mencoba memisahkan tubuhku dan tubuhnya.Lalu ia berdiri menghadapku dan memelukku dengan erat.Di atas sana,aku merasakan Ash mengecupi rambutku.

          “Maafkan aku.” Katanya.

          Lalu Ash melepaskan bajunya.Ia merobek baju itu menjadi beberapa bagian.Lalu Ash melilitkan robekan kain itu di telapak tanganku yang tergores kaca tadi.Matanya menatap tajam kearah mataku seperti seorang ayah yg memarahi anaknya.Sedetik kemudian tatapannya berubah.

          Badannya maju secepat kilat kearahku.Menempelkan bibirnya dengan bibirku dan memberikan kecupan hangat dan singkat di sana.

          Akupun kembali memeluknya.Walaupun aku harus mengeluarkan usaha untuk meraih pundaknya,aku tetap menyukainya karena itu sebanding dengan kehangatan yang kudapatkan.

          “Aku mencintaimu,sangat.Mungkin kalau benda itu merenggut nyawamu,aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu.Aku mengatakan aku takut karena.. Aku takut kehilanganmu..” Bisikku di telinganya.

          “Maafkan aku.Aku kejadian yang kualami di masa kecil membuatku tidak bisa mengungkapkan rasa cinta.” Jawabnya.

          Kemudian,satu pelukan hangat kuterima dari Ash.Matanya terpejam dan wajahnya bersembunyi di bahu kiriku.

          Pandanganku menjadi gelap dan tubuhku melemas lunglai di pelukannya..

          Yang terakhir kuingat hanya saat Ash memanggil manggil namaku.Aku berusaha untuk tetap sadar,tapi sepertinya itu sangat sulit sampai pada akhirnya aku harus menyerah dalam kegelapan..